al-Kisah, seorang Raja kaya nan bijak berburu bersama patih kepercayaannya dan juga para pengawalnya. Karena hutan begitu lebat, raja terpisah dari patihnya. Perburuanpun terus berlangsung.
Dua jurus kemudian, saat melihat semak-semak bergerak, sang Patih pun memanah kearah itu. Kena..! Dia pikir seekor rusa tapi celaka dua belas ternyata sang Raja yang terpanah. Untung panah itu mengenai jari kelingkingnya dan putus. Gemparlah dunia. Musibah tersebar ke seluruh negeri, rakyat sedih dan Patih pun di penjara seumur hidup tanpa proses pengadilan yang berlarut.
Beberapa tahun kemudian, kangen dengan hobinya, Raja ingin kembali berburu. Kali ini bersama beberapa pengawal, tidak dengan patih. Raja masih trauma khawatir terjadi lagi salah sasaran. Malang! Di pedalaman bertemu dengan pasukan suku Indian. Seluruh pengawal tertawan dan satu per satu dijadikan tumbal untuk upacara adat. Kini tiba giliran Raja, tapi ketika persembahan akan dilakukan, tiba-tiba urung. mengapa? Selidik punya selidik ternyata karena tumbal tidak boleh orang cacat: raja cacat karena tidak punya kelingking. Raja pun dilepas.
Raja gembira bukan kepalang dan beryukur. Sang Raja justru berterima kasih kepada sang Patih yang dulu tanpa sengaja memanahnya. Patihpun dibebaskannya. Raja memberi hadiah, tapi Patih menolaknya. Patih juga bersyukur dipenjara, karena kalau tidak dan ikut berburu, pasti sudah jadi tumbal!
Kawan. Kita memang tidak perlu larut dengan air mata ketika musibah menghampiri karena setan bisa menggelincirkan kita. Berbaik sangkalah kepada Allah, karena berburuk sangka dapat mengakibatkan kebinasaan buat kita.
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
.. mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk..
ingat, teman. apapun yang ditakdirkan-Nya, Dia tentu punya rencana dan hikmah sendiri.
وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
bisa jadi kamu benci sesuatu padahal itu baik buat kamu.
bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk buat kamu.
Allah Mahamengetahui sedang kamu tidak.
ekspresi pemikiran, pandangan dan pemahaman tentang keislaman, hukum dan sosial kemasyarakatan
Jumat, 01 Juli 2011
Kamis, 16 Juni 2011
GERHANA BULAN TOTAL. Momen Taubat.
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Hari ini Kamis 16 Juni 2011, dinihari dengan kuasa dan kebasaran Allah Subhanahu wa ta’ala terjadi Gerhana Bulan Total.
Bulan merupakan tetangga terdekat Bumi dalam tata surya. Permukaannya bertabur batu dan terdiri dari hamparan titik-titik kawah yang tak terhitung jumlahnya. Terkadang selama dalam jalur orbitnya, bulan dan bumi menjadi satu garis atau sejajar. Ketika hal ini terjadi maka inilah yang disebut dengan Gerhana.Gerhana bulan adalah fenomena alam saat bulan purnama tertutup oleh bayangan gelap bumi. Bayangan bumi tersebut dinamakan umbra.
Gerhana bulan (lunar eclipse) terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan serta berada dalam satu garis. Hal ini menyebabkan hanya sebagian kecil sinar matahari yang mencapai bulan. Selama gerhana bulan kita dapat melihat bayangan bumi pada bulan dengan menggunakan teleskop.
Gerhana bulan atau matahari merupakan gejala alam biasa. Gejala ini dalam ilmu astronomi/ilmu falak dapat diramalkan kejadiannya satu atau dua tahun sebelumnya. Bahkan sampai dengan hari, tanggal, jam, menit maupun detik, secara tepat.
Gerhana Bulan Total, Kamis 16 Juni 2011.
Untuk wilayah Indonesia, gerhana bulan Total terjadi pada 16 Juni 2011 dan bisa dilihat dari seluruh wilayah Indonesia. Prosesnya (menurut Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) adalah sebagai berikut :
Shalat Gerhana (Khusuf)
Islam menuntunkan pada umatnya agar sewaktu menjumpai gerhana hendaklah melakukan shalat sunnah dua rakaat semata-mata karena Allah, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat (41) Fushilat 37.
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Rasulullah juga menuntun kita untuk melaksanakan sholat gerhana. Hadits Nabi (HR Bakhari dan Muslaim dari Mughirah bin Su’bah ra:
Shalat Gerhana (bulan atau matahari) bisa munfarid atau sendirian, tapi yang utama adalah berjamaah.
Sekalipun siang (gerhana matahari), dilakukan dengan menyaringkan bacaan fatihan maupun surat.
Terdiri dari dua rakaat, setiap rakaat terdiri dari dua ruku’. Caranya: setelah selesai baca al-Fatihah dan surat (al Quran) kemudian ruku’ seperti shalat fardlu. Kemudian bangkit dari ruku’ dengan membaca tasmi’, dilanjutkan dengan membaca fatiahah dan surat, kemudian ruku kembali, kemudian i’tidal seraya membaca tasmi’. Itu satu rakaat. Pada rakaat kedua sama caranya. Jadi shalat gerhana: 4 ruku dan 4 sujud.
Diperpanjang bacaan al-Qurannya dan rukiu’nya.
Setelah selesai diteruskan dengan khutbah satu kali saja.
Mitos Gerhana di berbagai Negara
Di negara Cina sekitar 20 abad yang lalu masyarakatnya mempunyai keyakinan bahwa gerhana terjadi karena adanya seekor naga yang tidak terlihat oleh mata memakan matahari. Kemudian mereka membuat suatu keributan yang sangat besar dengan drum dan mengarahkan serta menembakkan panah-panah ke langit. Dengan itu sang naga akan ketakutan dan sinar matahari akan terlihat kembali. Pada suatu saat ada dua orang ahli perbintangan Cina yang bernama His dan Ho. Mereka tidak dapat memperkirakan datangnya gerhana. Kaisar yang berkuasa saat itu sangat marah karena ia tidak mempersiapkan apa-apa untuk mengusir sang naga. Meskipun akhirnya hari kembali terang, Kaisar tetap memrintahkan agar kedua astronom itu dibunuh karena dianggap telah gagal.
Di Asia Tengah, gerhana yang terjadi tanggal 28 mei 585 M mengakhiri perang dua negara timur tengah. Selama pertempuran, hari-hari menjadi gelap seperti malam. Gerhana menyebabkan kedua negara tersebut menyatakan perdamaian serta menghentikan pertempuran.
Di Jepang, masyarakat setempat mempercayai bahwa racun telah jatuh dari langit selama terjadi gerhana. Untuk mencegah racun itu jatuh ke dalam air mereka, mereka menutupi seluruh sumur dan mata air selama terjadinya gerhana.
Di India, masyarakatnya mempercayai bahwa Naga bertanggung jawab atas terjadinya gerhana. Selama gerhana, masyarakat di sana membenamkan diri mereka ke dalam air sampai leher mereka, dengan cara ibadah mereka tersebut, mereka mengharapkan matahari dan bulan dapat mempertahankan dirinya dari Naga.
Bila tidak punya iman, kita bias menghubungkan gerhana tersebut dengan ramalan-ramalan atau tradisi yang mendekati syirik. Oleh karena itu kita bisa terpenjara oleh tradisi. Untuk lolos sulit, perlu iradah yang kuat.
QS al-Baqarah 170
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
Momentum untuk bertaubat
Musibah di negeri ini tidak ada kapoknya. selalu saja terjadi silih berganti, dari musibah alam sampai dengan musibah moral dan akhlak bangsa. Kejujuran yang semakin langka dan kebohongan yang semakin menjadi sikap hati. Terjadinya proses sunnatullah Gerhana Bulan total ini hendaknya kita jadikan momentum untuk bertaubat. Maka segeralah kita kembali kepada Allah, bertaubat dan mohon ampun seperti yang dilakukan Adam dan hawa.(QS al-A’raf 23):
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Begitulah keadaan seorang mukmin. Bila mendapat kebaikan, maka dia mengembalikan keutamaan kepada Allah. “alhamdulillahilladzi hadzaa na lihaadza …” Bila mendapat keburukan, justru dia mencela dirinya sendiri, tidak mencela dan menyalahkan orang lain.
Ada yang beranggapan bahwa dampak negatif kedurhakaan dan akibatnya ditangguhkan hingga hari akhirat dan hari saat hisab. Padahal tidak. Ada hisab di akhirat dan ada hisab di dunia. Jika hukuman tidak diberlakukan, maka hukuman dari langit pasti akan turun kepada manusia. Hukuman dari langit, hukuman yang pasti dari Allah dan hukuman alam akan turun kepada semuamanusia.
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
QS al-Anfal 25
Kedurhakaan merupakan kemalangan bagi individu, masuarakat, semua manusia dan binatang serta makhluk hidup. Oleh karena itu manusia harus kembali kepada Allah, seraya mengatakan:
(QS Ali Imran 147) ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
(QS at-Thalaq [65] 2) وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
(QS at-Thalaq [65] 4) وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Setiap orang harus bertanya kepada dirinya, mengapa aku ditimpa musibah seperti ini?
wa Allah a'lam bish-showab
Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS Fushshilat 37)
Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua macam tanda dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bukan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka dari itu jika kamu melihatnya, segeralah mengerjakan shalat.. (HR Bukhari dan Muslim)
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Hari ini Kamis 16 Juni 2011, dinihari dengan kuasa dan kebasaran Allah Subhanahu wa ta’ala terjadi Gerhana Bulan Total.
Bulan merupakan tetangga terdekat Bumi dalam tata surya. Permukaannya bertabur batu dan terdiri dari hamparan titik-titik kawah yang tak terhitung jumlahnya. Terkadang selama dalam jalur orbitnya, bulan dan bumi menjadi satu garis atau sejajar. Ketika hal ini terjadi maka inilah yang disebut dengan Gerhana.Gerhana bulan adalah fenomena alam saat bulan purnama tertutup oleh bayangan gelap bumi. Bayangan bumi tersebut dinamakan umbra.
Gerhana bulan (lunar eclipse) terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan serta berada dalam satu garis. Hal ini menyebabkan hanya sebagian kecil sinar matahari yang mencapai bulan. Selama gerhana bulan kita dapat melihat bayangan bumi pada bulan dengan menggunakan teleskop.
Gerhana bulan atau matahari merupakan gejala alam biasa. Gejala ini dalam ilmu astronomi/ilmu falak dapat diramalkan kejadiannya satu atau dua tahun sebelumnya. Bahkan sampai dengan hari, tanggal, jam, menit maupun detik, secara tepat.
Gerhana Bulan Total, Kamis 16 Juni 2011.
Untuk wilayah Indonesia, gerhana bulan Total terjadi pada 16 Juni 2011 dan bisa dilihat dari seluruh wilayah Indonesia. Prosesnya (menurut Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) adalah sebagai berikut :
Mulai gerhana pukul 01:22 wib
Mulai total pukul 02:22 wib
Tengah Gerhana pukul 03:13 wib
Akhir total pukul 04:03 wib
Akhir gerhana pukul 05:03 wib
Shalat Gerhana (Khusuf)
Islam menuntunkan pada umatnya agar sewaktu menjumpai gerhana hendaklah melakukan shalat sunnah dua rakaat semata-mata karena Allah, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat (41) Fushilat 37.
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Rasulullah juga menuntun kita untuk melaksanakan sholat gerhana. Hadits Nabi (HR Bakhari dan Muslaim dari Mughirah bin Su’bah ra:
Telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw, yaitu pada hari kematian Ibrahim. Orang-orang berkata bahwa gerhana matahari tersebut karena kematian Ibrahim. Maka Rasulullah bersabda, “bahwasannya matahari dan bulan adalah dua anda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Keduanya tidak akan gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya. Maka apabila kamu melihat keduanya (gerhana), maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga ia lepas (dari gerhana).
Shalat Gerhana (bulan atau matahari) bisa munfarid atau sendirian, tapi yang utama adalah berjamaah.
Sekalipun siang (gerhana matahari), dilakukan dengan menyaringkan bacaan fatihan maupun surat.
Terdiri dari dua rakaat, setiap rakaat terdiri dari dua ruku’. Caranya: setelah selesai baca al-Fatihah dan surat (al Quran) kemudian ruku’ seperti shalat fardlu. Kemudian bangkit dari ruku’ dengan membaca tasmi’, dilanjutkan dengan membaca fatiahah dan surat, kemudian ruku kembali, kemudian i’tidal seraya membaca tasmi’. Itu satu rakaat. Pada rakaat kedua sama caranya. Jadi shalat gerhana: 4 ruku dan 4 sujud.
Diperpanjang bacaan al-Qurannya dan rukiu’nya.
Setelah selesai diteruskan dengan khutbah satu kali saja.
Mitos Gerhana di berbagai Negara
Di negara Cina sekitar 20 abad yang lalu masyarakatnya mempunyai keyakinan bahwa gerhana terjadi karena adanya seekor naga yang tidak terlihat oleh mata memakan matahari. Kemudian mereka membuat suatu keributan yang sangat besar dengan drum dan mengarahkan serta menembakkan panah-panah ke langit. Dengan itu sang naga akan ketakutan dan sinar matahari akan terlihat kembali. Pada suatu saat ada dua orang ahli perbintangan Cina yang bernama His dan Ho. Mereka tidak dapat memperkirakan datangnya gerhana. Kaisar yang berkuasa saat itu sangat marah karena ia tidak mempersiapkan apa-apa untuk mengusir sang naga. Meskipun akhirnya hari kembali terang, Kaisar tetap memrintahkan agar kedua astronom itu dibunuh karena dianggap telah gagal.
Di Asia Tengah, gerhana yang terjadi tanggal 28 mei 585 M mengakhiri perang dua negara timur tengah. Selama pertempuran, hari-hari menjadi gelap seperti malam. Gerhana menyebabkan kedua negara tersebut menyatakan perdamaian serta menghentikan pertempuran.
Di Jepang, masyarakat setempat mempercayai bahwa racun telah jatuh dari langit selama terjadi gerhana. Untuk mencegah racun itu jatuh ke dalam air mereka, mereka menutupi seluruh sumur dan mata air selama terjadinya gerhana.
Di India, masyarakatnya mempercayai bahwa Naga bertanggung jawab atas terjadinya gerhana. Selama gerhana, masyarakat di sana membenamkan diri mereka ke dalam air sampai leher mereka, dengan cara ibadah mereka tersebut, mereka mengharapkan matahari dan bulan dapat mempertahankan dirinya dari Naga.
Bila tidak punya iman, kita bias menghubungkan gerhana tersebut dengan ramalan-ramalan atau tradisi yang mendekati syirik. Oleh karena itu kita bisa terpenjara oleh tradisi. Untuk lolos sulit, perlu iradah yang kuat.
QS al-Baqarah 170
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
Momentum untuk bertaubat
Musibah di negeri ini tidak ada kapoknya. selalu saja terjadi silih berganti, dari musibah alam sampai dengan musibah moral dan akhlak bangsa. Kejujuran yang semakin langka dan kebohongan yang semakin menjadi sikap hati. Terjadinya proses sunnatullah Gerhana Bulan total ini hendaknya kita jadikan momentum untuk bertaubat. Maka segeralah kita kembali kepada Allah, bertaubat dan mohon ampun seperti yang dilakukan Adam dan hawa.(QS al-A’raf 23):
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Begitulah keadaan seorang mukmin. Bila mendapat kebaikan, maka dia mengembalikan keutamaan kepada Allah. “alhamdulillahilladzi hadzaa na lihaadza …” Bila mendapat keburukan, justru dia mencela dirinya sendiri, tidak mencela dan menyalahkan orang lain.
Ada yang beranggapan bahwa dampak negatif kedurhakaan dan akibatnya ditangguhkan hingga hari akhirat dan hari saat hisab. Padahal tidak. Ada hisab di akhirat dan ada hisab di dunia. Jika hukuman tidak diberlakukan, maka hukuman dari langit pasti akan turun kepada manusia. Hukuman dari langit, hukuman yang pasti dari Allah dan hukuman alam akan turun kepada semuamanusia.
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
QS al-Anfal 25
Kedurhakaan merupakan kemalangan bagi individu, masuarakat, semua manusia dan binatang serta makhluk hidup. Oleh karena itu manusia harus kembali kepada Allah, seraya mengatakan:
(QS Ali Imran 147) ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
(QS at-Thalaq [65] 2) وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
(QS at-Thalaq [65] 4) وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Setiap orang harus bertanya kepada dirinya, mengapa aku ditimpa musibah seperti ini?
wa Allah a'lam bish-showab
Selasa, 14 September 2010
JANGAN BIARKAN FITRI MEMUDAR
H+4. Popularitas Idul Fitri itu kini mulai memudar seiring kembalinya rutinitas yang ditandai dengan berakhirnya kalender cuti bersama. Beribu episode lebaran pun segera usai. Melalui strategi dan serunya perjalanan, para pemudik juga sudah kembali dari pulkamnya masing-masing. Kini mau gak mau kita harus kembali dengan rutinitas, khusushon hiruk pikuk aktifitas kejar tayang akhir tahun.
Lantas, adakah makna ramadan buat kita? Terasakah kita sebagai pemenang sejati di saat Idul Fitri?
Pertanyaan itu selalu membuat kita miris. Puasa di bulan Ramadhan dan Idul Fitri di bulan Syawwal sesungguhnya merupakan satu kesatuan rangkaian. Kemenangan saat merayakan Idul Fitri tidaklah mungkin diraih tanpa kita 'berkeringat' di bulan Ramadan. Kemenangan itu memang hakikatnya hanya milik mereka yang berpuasa secara serius penuh iman dan keikhlasan, untuk mereka yang memenuhi puasanya dengan berbagai kesibukan amaliyah pendekatan diri kepada Sang Khaliq untuk mengasah jiwanya. Itulah yang membuat diri menjadi fitri kembali.
Berbahagialah setiap kita yang sukses ramadannya karena insya Allah itulah pemenangnya. Kemenangan atau keberuntungan (al-faizin) tidaklah identik dengan materi: baju baru, mobil baru, HP baru, etcetera, etcetera. Kemenangan juga tidak identik bagi mereka yang bisa pulkam lengkap dengan aksesori dunia yang menyertainya.
Prof. Quraish Shihab menyatakan, dari 29 kali perulangan kata fawz (akar kata dari al-faizin) di dalam al-Quran dengan berbagai bentukannya hanya satu kata (afuzu) yang bermakna materi, itupun untuk menggambarkan ucapan orang munafik yang memahami keberuntungan sebagai keberuntungan yang bersifat materi (QS 4:73). Sedangkan pada ayat-ayat yang lain mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi”.
Kita tentu berharap bukan kemenangan semu yang kita raih, yakni kemenangan yang lebih bersifat materialistik dan kering makna. Namun sebaliknya, memperoleh kemenangan sejati, yakni pribadi yang kembali kepada fitri, kembali kepada kesucian, kembali kepada agama yang benar dan memperoleh pengampunan dan keridhaan Allah Swt. Dan kefitrian kita itu mewarnai kinerja kita sepanjang tahun hingga datangnya kembali ramadan tahun depan. Bila seperti itu insya Allah hikmah puasa dan kefitrian kita menjadi kontekstual yang melahirkan berbagai maslahat. Amien.
Minal Aidin wal Faizin.
Lantas, adakah makna ramadan buat kita? Terasakah kita sebagai pemenang sejati di saat Idul Fitri?
Pertanyaan itu selalu membuat kita miris. Puasa di bulan Ramadhan dan Idul Fitri di bulan Syawwal sesungguhnya merupakan satu kesatuan rangkaian. Kemenangan saat merayakan Idul Fitri tidaklah mungkin diraih tanpa kita 'berkeringat' di bulan Ramadan. Kemenangan itu memang hakikatnya hanya milik mereka yang berpuasa secara serius penuh iman dan keikhlasan, untuk mereka yang memenuhi puasanya dengan berbagai kesibukan amaliyah pendekatan diri kepada Sang Khaliq untuk mengasah jiwanya. Itulah yang membuat diri menjadi fitri kembali.
Berbahagialah setiap kita yang sukses ramadannya karena insya Allah itulah pemenangnya. Kemenangan atau keberuntungan (al-faizin) tidaklah identik dengan materi: baju baru, mobil baru, HP baru, etcetera, etcetera. Kemenangan juga tidak identik bagi mereka yang bisa pulkam lengkap dengan aksesori dunia yang menyertainya.
Prof. Quraish Shihab menyatakan, dari 29 kali perulangan kata fawz (akar kata dari al-faizin) di dalam al-Quran dengan berbagai bentukannya hanya satu kata (afuzu) yang bermakna materi, itupun untuk menggambarkan ucapan orang munafik yang memahami keberuntungan sebagai keberuntungan yang bersifat materi (QS 4:73). Sedangkan pada ayat-ayat yang lain mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi”.
Kita tentu berharap bukan kemenangan semu yang kita raih, yakni kemenangan yang lebih bersifat materialistik dan kering makna. Namun sebaliknya, memperoleh kemenangan sejati, yakni pribadi yang kembali kepada fitri, kembali kepada kesucian, kembali kepada agama yang benar dan memperoleh pengampunan dan keridhaan Allah Swt. Dan kefitrian kita itu mewarnai kinerja kita sepanjang tahun hingga datangnya kembali ramadan tahun depan. Bila seperti itu insya Allah hikmah puasa dan kefitrian kita menjadi kontekstual yang melahirkan berbagai maslahat. Amien.
Minal Aidin wal Faizin.
Minggu, 22 Agustus 2010
TOLERAN MEMANCAR DI BAITURRAHMAN
rabu malam itu terasa sejuk, sejak sore langit memang mendung. gerimis sore yang sporadis itu membuat langit di atas Serambi Mekkah menjadi bersih, menutup oportunitas debu untuk terbang liar memerihkan mata, muka berdebu atau bikin sesak napas. pun polusi yang lain. shaum hari itu menjadi khusyu’ dan ni’mat.
sejurus kemudian sejukpun mengantarkan malam. tiba-tiba imanku yang pas-pasan menjadi tidak sabar untuk menghambur ke rumah Allah yang tegar itu: masjid raya Baiturrahman Nanggroe Aceh Darussalam. sudah lama aku memendam kesempatan untuk bisa bersujud serendah-rendahnya di masjid penuh pesona dan kharismatik itu. jadilah tarawih pertamaku di Baiturrahman.
jama’ah isya’ku tertinggal dua raka’at menjadikanku makmum masbuk. Ndak masalah, yang penting masih dapat keutamaan shalat berjama’ah dua puluh tujuh derajat melebihi shalat sendirian. Subhanallah, nikmatnya shalat malam itu. jama’ahnya tertib, tidak ada canda bocah seperti kebanyakan masjid di daerahku tinggal, bacaan imam shalat yang tartil, tenang dan berkualitas menjadikan shalat bertambah khusyu’. taushiyah dari ustadz yang profesor itu sungguh mencerahkan, rasa-rasanya kadar imanku malam itu menebal beberapa karat.
puluhan, mungkin ratusan, pilar kokoh yang ikut berjamaah itu seakan bertutur ratusan bahkan beribu kisah tentang syiar Islam dan sejarah perjuangan ummat Islam Aceh mendapatkan keyakinan Islamnya yang kokoh, kedamaian dan kesejahteraannya. warna serba putih semakin mengokohkan kesucian tempat itu dan putihnya hati serta kesahajaan jamaahnya di hadapan Sang Rabb. marmer yang sejuk membuat batin semakin tenang. aku optimis kondusifitas ini akan menjadikan tarawihku benar-benar santai dan menenteramkan.
Kanjeng Rasul salallahu alaihi wasallam selalu menggemarkan para sahabatnya untuk mengerjakan qiyam ramadhan (shalat malam pada bulan Ramadhan). “siapa saja yang mendirikan shalat malam pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.”
bacaan imam sangat prima dan merdu, tidak panjang tapi tidak terlalu pendek. dua rakaat salam dan diulang empat kali, kemudian ditutup dengan tiga rakaat witir satu salam. ketika selesai tarawih delapan rakaat, tiba-tiba sebagian jamaah keluar dengan tertib dan santun. segera aku simpulkan, mungkin shalat tarawih dilakukan dengan dua versi. versi pertama, melaksanakan sebelas rakaat dan versi kedua melaksanakan dua puluh tiga rakaat. benar. begitu witir selesai, sebagian besar jamaahpun beranjak keluar masjid. Sebagian jamaah yang tadi keluar ternyata menunggu dan bergantian masuk masjid untuk melanjutkan tarawihnya menjadi dua puluh rakaat plus tiga rakaat witir.
jamaah yang sholat delapan rakaat mengikuti cara qiyamu ramadhan Kanjeng Rasul, yang dua puluh tiga mengikuti contoh sahabat Umar bin Khattab. semua berjalan dengan khidmat. jamaah begitu dewasa dengan versi yang diyakini dan dijalankannya masing-masing. tidak ada blok sendiri-sendiri yang menandakan kesan jarak psikologis. pergantiannya pun khidmat, tidak saling berjejal. senyum jamaah menebar tanda mereka semua gembira dengan tarawih atau qiyamu ramadhannya. aku pernah menjumpai pelaksanaan tarawih satu masjid dengan dua versi seperti ini tapi di Baiturrahman terasa lain.
Baiturrahman benar-benar telah menghadirkan suasana yang tasamuh, toleransi tinggi, ukhuwah islamiyah yang solid. tidak ada yang merasa berbeda. semua merasa ummat yang satu dan bersaudara. pasti ini bukan suasana yang lahir begitu saja tapi tercipta karena muslimin di bumi serambi mekkah itu istiqomah menjalankan syariat islamnya. tidak percaya kalau ada yang mengesankan orang aceh tidak suka damai dan suka memberontak. aku menjadi semakin haqul yakin bahwa masalah di aceh selama ini bukan karena politik tapi masalah ekonomi dan ketidakadilan. akupun diam-diam protes, mestinya aceh bisa lebih makmur dan megah seperti kota-kota besar di indonesia lainnya yang kaya sumber daya alam dan bisa menikmati kekayaan yang diberikan Allah Sang Pemberi Rizki.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi Nanggroe Aceh Darussalam yang istiqomah dengan syariat-Nya, kedamaian dan kesejahteraan. amien.
sejurus kemudian sejukpun mengantarkan malam. tiba-tiba imanku yang pas-pasan menjadi tidak sabar untuk menghambur ke rumah Allah yang tegar itu: masjid raya Baiturrahman Nanggroe Aceh Darussalam. sudah lama aku memendam kesempatan untuk bisa bersujud serendah-rendahnya di masjid penuh pesona dan kharismatik itu. jadilah tarawih pertamaku di Baiturrahman.
jama’ah isya’ku tertinggal dua raka’at menjadikanku makmum masbuk. Ndak masalah, yang penting masih dapat keutamaan shalat berjama’ah dua puluh tujuh derajat melebihi shalat sendirian. Subhanallah, nikmatnya shalat malam itu. jama’ahnya tertib, tidak ada canda bocah seperti kebanyakan masjid di daerahku tinggal, bacaan imam shalat yang tartil, tenang dan berkualitas menjadikan shalat bertambah khusyu’. taushiyah dari ustadz yang profesor itu sungguh mencerahkan, rasa-rasanya kadar imanku malam itu menebal beberapa karat.
puluhan, mungkin ratusan, pilar kokoh yang ikut berjamaah itu seakan bertutur ratusan bahkan beribu kisah tentang syiar Islam dan sejarah perjuangan ummat Islam Aceh mendapatkan keyakinan Islamnya yang kokoh, kedamaian dan kesejahteraannya. warna serba putih semakin mengokohkan kesucian tempat itu dan putihnya hati serta kesahajaan jamaahnya di hadapan Sang Rabb. marmer yang sejuk membuat batin semakin tenang. aku optimis kondusifitas ini akan menjadikan tarawihku benar-benar santai dan menenteramkan.
Kanjeng Rasul salallahu alaihi wasallam selalu menggemarkan para sahabatnya untuk mengerjakan qiyam ramadhan (shalat malam pada bulan Ramadhan). “siapa saja yang mendirikan shalat malam pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.”
bacaan imam sangat prima dan merdu, tidak panjang tapi tidak terlalu pendek. dua rakaat salam dan diulang empat kali, kemudian ditutup dengan tiga rakaat witir satu salam. ketika selesai tarawih delapan rakaat, tiba-tiba sebagian jamaah keluar dengan tertib dan santun. segera aku simpulkan, mungkin shalat tarawih dilakukan dengan dua versi. versi pertama, melaksanakan sebelas rakaat dan versi kedua melaksanakan dua puluh tiga rakaat. benar. begitu witir selesai, sebagian besar jamaahpun beranjak keluar masjid. Sebagian jamaah yang tadi keluar ternyata menunggu dan bergantian masuk masjid untuk melanjutkan tarawihnya menjadi dua puluh rakaat plus tiga rakaat witir.
jamaah yang sholat delapan rakaat mengikuti cara qiyamu ramadhan Kanjeng Rasul, yang dua puluh tiga mengikuti contoh sahabat Umar bin Khattab. semua berjalan dengan khidmat. jamaah begitu dewasa dengan versi yang diyakini dan dijalankannya masing-masing. tidak ada blok sendiri-sendiri yang menandakan kesan jarak psikologis. pergantiannya pun khidmat, tidak saling berjejal. senyum jamaah menebar tanda mereka semua gembira dengan tarawih atau qiyamu ramadhannya. aku pernah menjumpai pelaksanaan tarawih satu masjid dengan dua versi seperti ini tapi di Baiturrahman terasa lain.
Baiturrahman benar-benar telah menghadirkan suasana yang tasamuh, toleransi tinggi, ukhuwah islamiyah yang solid. tidak ada yang merasa berbeda. semua merasa ummat yang satu dan bersaudara. pasti ini bukan suasana yang lahir begitu saja tapi tercipta karena muslimin di bumi serambi mekkah itu istiqomah menjalankan syariat islamnya. tidak percaya kalau ada yang mengesankan orang aceh tidak suka damai dan suka memberontak. aku menjadi semakin haqul yakin bahwa masalah di aceh selama ini bukan karena politik tapi masalah ekonomi dan ketidakadilan. akupun diam-diam protes, mestinya aceh bisa lebih makmur dan megah seperti kota-kota besar di indonesia lainnya yang kaya sumber daya alam dan bisa menikmati kekayaan yang diberikan Allah Sang Pemberi Rizki.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi Nanggroe Aceh Darussalam yang istiqomah dengan syariat-Nya, kedamaian dan kesejahteraan. amien.
Minggu, 15 Agustus 2010
SAHUR ITU BERKAH
Sebagian orang yang berpuasa mengacuhkan sahur dan tidak mengakhirkannya. Padahal ia merupakan sunnah Rasul:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Makan sahurlah, sebab dalam sahur ada keberkahan. (HR Mutafaq 'alaih). Adakalanya bahkan ia meninggalkannya sama sekali. Adakalanya ia makan pada pertengahan malam atau sebelum tidur, biasanya karena khawatir tidak bisa tidur atau takut tidak bisa bangun pagi-pagi sekali, ingin tidur lebih lama, ataupun karena ketidaktahuannya terhadap hal itu. Ini kesalahan yang semestinya dikoreksi dan diperbaiki oleh orang yang berpuasa.
Sahur sangat penting, disamping karena keberkahannya juga terkait dengan rukun puasa. Rukun puasa adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri. Jika rukun ini tidak dijalankan, maka tidak sah ibadah tersedut alias batal. Rukun puasa ada dua, yaitu: (1) niat; dan (2) menahan diri. Kedudukan niat dalam puasa sangat utama. Tanpa niat puasa seseorang tidak sah. Sebab Rasulullah menyatakan bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Sabda selanjutnya: “siapa saja yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.”
Niat puasa boleh dilakukan jauh sebelumnya, yaitu malam hari hingga sebelum fajar. Niat adanya di dalam hati, tidak disyaratkan mengucapkannya, karena merupakan pekerjaan hati, maka tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah. Jika kita melakukan sahur untuk puasa besok berarti sahur tersebut sudah merupakan niat baginya untuk berpuasa.
Niat puasa yang harus dilakukan sebelum memasuki fajar adalah puasa wajib, yaitu puasa Ramadhan, puasa qadla Ramadhan, puasa nadzar, puasa kafarat dan puasa fidyah haji. Sedangkan puasa sunnah, menurut fuqaha, niat boleh dilakukan setelah fajar terbit sebelum matahari tergelincir (dzuhur) dengan catatan belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. Sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah yang diceriterakan oleh Aisyah. Pada suatu hari Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Aisyah, adakah sesuatu padamu (yang dapat kumakan)? Aku menjawab, “Tidak ada, ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kalau begitu aku akan berpuasa.”
Banyak keberkahan yang akan diraih bila kita sahur dan mengakhirkannya, antara lain:
(1) Menyambut perintah Rasulullah. Allah berfirman: “Siapa saja yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS.4. an-Nisa’ ayat 80). “Dan siapa saja mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS.33. Al-Ahzab ayat 71).
(2) Syiar umat Islam. Prosesi sahur sebelum berpuasa merupakan satu pembeda ibadah puasa orang Islam dengan kaum yang lain. Nabi Saws bersabda: “Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab ialah makan sahur”.
(3) Mendapatkan kebaikan dan memeliharanya. Dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi bahwa Nabi Saw bersabda: Manusia senantiasa akan mendapatkan kebaikan selagi mereka mnyegerakan berbuka dan mengkahirkan sahur. (HR al-Bukhari dan Muslim).
(4) Memberikan kekuatan untuk melakukan ketaatan membantu beribadah, menambah semangat dan aktifitas. Sebab orang yang lapar dan haus mudah terjangkau kemalasan.
(5) Mendapatkan rahmat dari Allah dan doa dari Malaikat. Rasulullah bersabda: “Sahur itu seluruhnya adalah berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan meskipun hanya seteguk air. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang yang makan sahur”. (HR Ahmad).
(6) Dapat mencegah akhlak buruk yang diakibatkan karena kelaparan.
(7) Waktu yang berkah. Nabi bersabda: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Siapa saja yang memohon kepadaKu, Aku akan meberikan kepadanya; dan siapa sja memohon ampun kepadaKu, Aku akan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari).
(8) Merupakan salah satu waktu istighfar paling sempurna, meskipun bukan yang terbaik. Allah Swt memuji orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur, dengan firman-Nya: “Dan yang memohon ampun di waktu sahur”. (QS. Ali Imran ayat 17). Dalam ayat yang lain: “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat ayat 18). Melaksanakan sahur adalah faktor diraihnya keutamaan ini dan diraihnya keberkahan-keberkahan istighfar yang bermacam-macam.
(9) Menjamin menyambut panggilan adzan sholat Shubuh. Sehingga sahur juga menjamin untuk bisa melaksanakan shalat shubuh pada waktunya dengan berjama’ah.
(10) Sahur itu ibadah. Bila ia meniatkannya karena ketakwaan kepada Allah dan mengikut Rasullah Saws.
Masih banyak keberkahan sahur yang lain. Oleh karena itu sahurlah diakhir waktu menjelang waktu Shubuh datang. Rasul biasa sanatap sahur setengah jam sebelum Shubuh tiba atau kira-kira sekitar bacaan lim puluh ayat, sebagaimana diceriterakan oleh Zaid bin Tsabit.
Insya Allah kita akan lebih kuat berpuasa sekaligus mendapatkan kebaikan dari makan sahur yang diakhirkan. Amien.
Selamat Berpuasa Ramadhan.
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Makan sahurlah, sebab dalam sahur ada keberkahan. (HR Mutafaq 'alaih). Adakalanya bahkan ia meninggalkannya sama sekali. Adakalanya ia makan pada pertengahan malam atau sebelum tidur, biasanya karena khawatir tidak bisa tidur atau takut tidak bisa bangun pagi-pagi sekali, ingin tidur lebih lama, ataupun karena ketidaktahuannya terhadap hal itu. Ini kesalahan yang semestinya dikoreksi dan diperbaiki oleh orang yang berpuasa.
Sahur sangat penting, disamping karena keberkahannya juga terkait dengan rukun puasa. Rukun puasa adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri. Jika rukun ini tidak dijalankan, maka tidak sah ibadah tersedut alias batal. Rukun puasa ada dua, yaitu: (1) niat; dan (2) menahan diri. Kedudukan niat dalam puasa sangat utama. Tanpa niat puasa seseorang tidak sah. Sebab Rasulullah menyatakan bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Sabda selanjutnya: “siapa saja yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.”
Niat puasa boleh dilakukan jauh sebelumnya, yaitu malam hari hingga sebelum fajar. Niat adanya di dalam hati, tidak disyaratkan mengucapkannya, karena merupakan pekerjaan hati, maka tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah. Jika kita melakukan sahur untuk puasa besok berarti sahur tersebut sudah merupakan niat baginya untuk berpuasa.
Niat puasa yang harus dilakukan sebelum memasuki fajar adalah puasa wajib, yaitu puasa Ramadhan, puasa qadla Ramadhan, puasa nadzar, puasa kafarat dan puasa fidyah haji. Sedangkan puasa sunnah, menurut fuqaha, niat boleh dilakukan setelah fajar terbit sebelum matahari tergelincir (dzuhur) dengan catatan belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. Sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah yang diceriterakan oleh Aisyah. Pada suatu hari Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Aisyah, adakah sesuatu padamu (yang dapat kumakan)? Aku menjawab, “Tidak ada, ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kalau begitu aku akan berpuasa.”
Banyak keberkahan yang akan diraih bila kita sahur dan mengakhirkannya, antara lain:
(1) Menyambut perintah Rasulullah. Allah berfirman: “Siapa saja yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS.4. an-Nisa’ ayat 80). “Dan siapa saja mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS.33. Al-Ahzab ayat 71).
(2) Syiar umat Islam. Prosesi sahur sebelum berpuasa merupakan satu pembeda ibadah puasa orang Islam dengan kaum yang lain. Nabi Saws bersabda: “Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab ialah makan sahur”.
(3) Mendapatkan kebaikan dan memeliharanya. Dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi bahwa Nabi Saw bersabda: Manusia senantiasa akan mendapatkan kebaikan selagi mereka mnyegerakan berbuka dan mengkahirkan sahur. (HR al-Bukhari dan Muslim).
(4) Memberikan kekuatan untuk melakukan ketaatan membantu beribadah, menambah semangat dan aktifitas. Sebab orang yang lapar dan haus mudah terjangkau kemalasan.
(5) Mendapatkan rahmat dari Allah dan doa dari Malaikat. Rasulullah bersabda: “Sahur itu seluruhnya adalah berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan meskipun hanya seteguk air. Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang yang makan sahur”. (HR Ahmad).
(6) Dapat mencegah akhlak buruk yang diakibatkan karena kelaparan.
(7) Waktu yang berkah. Nabi bersabda: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Siapa saja yang memohon kepadaKu, Aku akan meberikan kepadanya; dan siapa sja memohon ampun kepadaKu, Aku akan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari).
(8) Merupakan salah satu waktu istighfar paling sempurna, meskipun bukan yang terbaik. Allah Swt memuji orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur, dengan firman-Nya: “Dan yang memohon ampun di waktu sahur”. (QS. Ali Imran ayat 17). Dalam ayat yang lain: “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat ayat 18). Melaksanakan sahur adalah faktor diraihnya keutamaan ini dan diraihnya keberkahan-keberkahan istighfar yang bermacam-macam.
(9) Menjamin menyambut panggilan adzan sholat Shubuh. Sehingga sahur juga menjamin untuk bisa melaksanakan shalat shubuh pada waktunya dengan berjama’ah.
(10) Sahur itu ibadah. Bila ia meniatkannya karena ketakwaan kepada Allah dan mengikut Rasullah Saws.
Masih banyak keberkahan sahur yang lain. Oleh karena itu sahurlah diakhir waktu menjelang waktu Shubuh datang. Rasul biasa sanatap sahur setengah jam sebelum Shubuh tiba atau kira-kira sekitar bacaan lim puluh ayat, sebagaimana diceriterakan oleh Zaid bin Tsabit.
Insya Allah kita akan lebih kuat berpuasa sekaligus mendapatkan kebaikan dari makan sahur yang diakhirkan. Amien.
Selamat Berpuasa Ramadhan.
Langganan:
Postingan (Atom)
