Sabtu, 26 Mei 2012

Berbisnis Dengan ALLAH

Suatu hari, usai mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam kepada para sahabatnya di Masjid Nabawi, Madinah, maka pulanglah Ali bin Abi Thalib ke rumahnya. 

Sesampai di rumahnya, ia menemui isterinya, Fatimah, putri Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam yang sedang duduk memintal benang.
“Wahai perempuan yang mulia. Adakah sesuatu makanan yang dapat dimakan oleh suamimu ini?” Tanya Ali. 
Fatimah pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak mempunyai sesuatupun. Tetapi aku punya uang enam dirham yang akan kugunakan untuk membeli makanan buat Hasan dan Husein.”
“Tolong, berikanlah uang itu kepadaku.” ujar Ali. 
Fatimah pun memberikan uang itu kepada Ali bin Abi Thalib. 

Setelah itu, Ali pun segera keluar membawa uang enam dirham itu untuk membeli makanan untuk Hasan dan Husein. Dalam perjalanan, Ali melihat seorang lelaki yang sedang berdiri di dekat pohon kurma dengan pakaian yang sangat kumal. Rupanya ia seorang pengemis. 

Melihat ada yang mendekat, pengemis itupun meminta kepada Ali.
“Wahai tuan, siapakah yang hendak mengutangi Allah dengan piutang yang baik?” ujar laki-laki tersebut seraya mengutip ayat al-Quran surah Al-Baqarah [2] ayat 245. 
“Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang lebih banyak. Dan Allah akan menyempitkan dan melapangkan rizki, dan kepada-Nya lah kamu kembali.”
Secara spontan Ali pun memberikan semua yang dimilikinya itu tanpa sisa. Setelah itu ia pun segera kembali ke rumahnya dengan hati yang sangat lapang penuh kepuasan.

Namun, ketika Fatimah menyaksikan suaminya yang pulang tanpa membawa apa pun, maka menangislah putri Shalallahu ‘alaihi wasallam ini. 

Menyaksikan hal itu, Ali pun bertanya: “Wahai perempuan yang mulia, mengapa engkau menangis?” 

“Wahai putra paman Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, kulihat engkau tidak membawa apa-apa dari uang yang aku berikan tadi. Mengapa bisa demikian? Bagaimana makanan Hasan dan Husein?” 

Ali pun kemudian menyampaikan kejadian yang sesungguhnya. “Wahai perempuan yang mulia, sesungguhnya uang itu telah dipinjamkan kepada Allah, jelas Ali. 

Mendengar hal itu, maka Fatimah pun tersenyum seraya berkata, “Engkau benar suamiku.” Maka selesailah sementara persoalan mereka hadapi. Namun bagaimana dengan hari esok? 

Ali pun kemudian berpamitan kepada Fatimah. Ia bermaksud menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang Arab dusun yang sedang menuntun seekor unta betina. Orang Arab dusun tersebut berkata kepada Ali. 

“Hai Pak Hasan, belilah unta ini dariku.” 
Ali menjawab, “Aku tidak memiliki uang.” 
Gampang, beli saja unta ini dan nanti engkau bisa membayarnya setelah laku,” kata arab dusun itu.
“Berapa engkau akan menjual unta ini?” Tanya Ali. 
“Seratus dirham,” jawabnya. 
“Baiklah, kalau begitu aku membelinya,” kata Ali. 

Setelah semuanya disepakati, berpisahlah Ali dengan dengan orang arab dusun tersebut. Ali lalu membawa unta betina itu untuk dijual. Saat menuntun unta tersebut, tiba-tiba datanglah orang arab dusun lainnya. Ia bertanya kepada Ali. 

“Wahai Bapak Hasan, apakah engkau akan menjual unta ini?” Ali pun mengiyakannya. 

“Berapa engkau akan menjualnya?” Tanya arab dusun itu. 
“Seratus enam puluh dirham,” kata Ali. 
“Baiklah, aku beli unta itu,” jawab Arab dusun tersebut. 

Maka iapun membayar harga unta itu kepada Ali bin Abi Thalib. Setelah itu, Ali mencari Arab dusun yang pertama. Dan saat bertemu, ia serahkan harga unta yang dibelinya itu dengan harga seratus dirham. 

Selanjtnya Ali pun pulang dan bertemu dengan isteri tercinta, Sayyidah Fatimah a-Zahra. Ali kemudian memberikan semua uang yang didapatannya hari itu kepada Fatimah. Isterinya heran melihat dirham yang demikian banyak itu. Ia pun bertnya kepada Ali dari mana sumber dana yang didapatkannya itu. 

“Inilah hasil kita berniaga dengan Allah,” kata Ali. Maka tersenyumlah Fatimah. Ali kemudian menceriterakan peristiwa yang dialaminya hari itu kepada Fatimah. Mereka bertanya-tanya, siapakah gerangan kedua orang arab dusun itu? Ali kemudian mendatangi Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dan menceriterakan hal itu. Rasul menjelaskan bahwa orang yang menjual unta itu adalah malaikat Jibril, dan yang membelinya adalah malaikat Mikail. Sedangkan unta itu adalah tunggangan Fatimah di hari kiamat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam terbiasa mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk bersabar atas segala sesuatu yang menimpa mereka, termasuk dalam masalah lapar sekalipun. Mereka senantiasa mengencangkan ikat pinggang. Bila tidak ada sama sekali yang dimakan, maka merekapun akan berpuasa. Itulah yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam kepada sahabat-sahabatnya.

Jumat, 01 Juli 2011

BAIK SANGKA

al-Kisah, seorang Raja kaya nan bijak berburu bersama patih kepercayaannya dan juga para pengawalnya. Karena hutan begitu lebat, raja terpisah dari patihnya. Perburuanpun terus berlangsung.

Dua jurus kemudian, saat melihat semak-semak bergerak, sang Patih pun memanah kearah itu. Kena..! Dia pikir seekor rusa tapi celaka dua belas ternyata sang Raja yang terpanah. Untung panah itu mengenai jari kelingkingnya dan putus. Gemparlah dunia. Musibah tersebar ke seluruh negeri, rakyat sedih dan Patih pun di penjara seumur hidup tanpa proses pengadilan yang berlarut.

Beberapa tahun kemudian, kangen dengan hobinya, Raja ingin kembali berburu. Kali ini bersama beberapa pengawal, tidak dengan patih. Raja masih trauma khawatir terjadi lagi salah sasaran. Malang! Di pedalaman bertemu dengan pasukan suku Indian. Seluruh pengawal tertawan dan satu per satu dijadikan tumbal untuk upacara adat. Kini tiba giliran Raja, tapi ketika persembahan akan dilakukan, tiba-tiba urung. mengapa? Selidik punya selidik ternyata karena tumbal tidak boleh orang cacat: raja cacat karena tidak punya kelingking. Raja pun dilepas.

Raja gembira bukan kepalang dan beryukur. Sang Raja justru berterima kasih kepada sang Patih yang dulu tanpa sengaja memanahnya. Patihpun dibebaskannya. Raja memberi hadiah, tapi Patih menolaknya. Patih juga bersyukur dipenjara, karena kalau tidak dan ikut berburu, pasti sudah jadi tumbal!

Kawan. Kita memang tidak perlu larut dengan air mata ketika musibah menghampiri karena setan bisa menggelincirkan kita. Berbaik sangkalah kepada Allah, karena berburuk sangka dapat mengakibatkan kebinasaan buat kita.

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
.. mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk..

ingat, teman. apapun yang ditakdirkan-Nya, Dia tentu punya rencana dan hikmah sendiri.
وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

bisa jadi kamu benci sesuatu padahal itu baik buat kamu.
bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk buat kamu.
Allah Mahamengetahui sedang kamu tidak.

Kamis, 16 Juni 2011

GERHANA BULAN TOTAL. Momen Taubat.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS Fushshilat 37)

Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua macam tanda dari sekian banyak tanda-tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bukan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka dari itu jika kamu melihatnya, segeralah mengerjakan shalat.. (HR Bukhari dan Muslim)

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Hari ini Kamis 16 Juni 2011, dinihari dengan kuasa dan kebasaran Allah Subhanahu wa ta’ala terjadi Gerhana Bulan Total.

Bulan merupakan tetangga terdekat Bumi dalam tata surya. Permukaannya bertabur batu dan terdiri dari hamparan titik-titik kawah yang tak terhitung jumlahnya. Terkadang selama dalam jalur orbitnya, bulan dan bumi menjadi satu garis atau sejajar. Ketika hal ini terjadi maka inilah yang disebut dengan Gerhana.Gerhana bulan adalah fenomena alam saat bulan purnama tertutup oleh bayangan gelap bumi. Bayangan bumi tersebut dinamakan umbra.

Gerhana bulan (lunar eclipse) terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan serta berada dalam satu garis. Hal ini menyebabkan hanya sebagian kecil sinar matahari yang mencapai bulan. Selama gerhana bulan kita dapat melihat bayangan bumi pada bulan dengan menggunakan teleskop.


Gerhana bulan atau matahari merupakan gejala alam biasa. Gejala ini dalam ilmu astronomi/ilmu falak dapat diramalkan kejadiannya satu atau dua tahun sebelumnya. Bahkan sampai dengan hari, tanggal, jam, menit maupun detik, secara tepat.

Gerhana Bulan Total, Kamis 16 Juni 2011.
Untuk wilayah Indonesia, gerhana bulan Total terjadi pada 16 Juni 2011 dan bisa dilihat dari seluruh wilayah Indonesia. Prosesnya (menurut Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) adalah sebagai berikut :
Mulai gerhana pukul 01:22 wib
Mulai total pukul 02:22 wib
Tengah Gerhana pukul 03:13 wib
Akhir total pukul 04:03 wib
Akhir gerhana pukul 05:03 wib

Shalat Gerhana (Khusuf)

Islam menuntunkan pada umatnya agar sewaktu menjumpai gerhana hendaklah melakukan shalat sunnah dua rakaat semata-mata karena Allah, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat (41) Fushilat 37.

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Rasulullah juga menuntun kita untuk melaksanakan sholat gerhana. Hadits Nabi (HR Bakhari dan Muslaim dari Mughirah bin Su’bah ra:

Telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah saw, yaitu pada hari kematian Ibrahim. Orang-orang berkata bahwa gerhana matahari tersebut karena kematian Ibrahim. Maka Rasulullah bersabda, “bahwasannya matahari dan bulan adalah dua anda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Keduanya tidak akan gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya. Maka apabila kamu melihat keduanya (gerhana), maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga ia lepas (dari gerhana).

Shalat Gerhana (bulan atau matahari) bisa munfarid atau sendirian, tapi yang utama adalah berjamaah.
Sekalipun siang (gerhana matahari), dilakukan dengan menyaringkan bacaan fatihan maupun surat.
Terdiri dari dua rakaat, setiap rakaat terdiri dari dua ruku’. Caranya: setelah selesai baca al-Fatihah dan surat (al Quran) kemudian ruku’ seperti shalat fardlu. Kemudian bangkit dari ruku’ dengan membaca tasmi’, dilanjutkan dengan membaca fatiahah dan surat, kemudian ruku kembali, kemudian i’tidal seraya membaca tasmi’. Itu satu rakaat. Pada rakaat kedua sama caranya. Jadi shalat gerhana: 4 ruku dan 4 sujud.
Diperpanjang bacaan al-Qurannya dan rukiu’nya.
Setelah selesai diteruskan dengan khutbah satu kali saja.

Mitos Gerhana di berbagai Negara

Di negara Cina sekitar 20 abad yang lalu masyarakatnya mempunyai keyakinan bahwa gerhana terjadi karena adanya seekor naga yang tidak terlihat oleh mata memakan matahari. Kemudian mereka membuat suatu keributan yang sangat besar dengan drum dan mengarahkan serta menembakkan panah-panah ke langit. Dengan itu sang naga akan ketakutan dan sinar matahari akan terlihat kembali. Pada suatu saat ada dua orang ahli perbintangan Cina yang bernama His dan Ho. Mereka tidak dapat memperkirakan datangnya gerhana. Kaisar yang berkuasa saat itu sangat marah karena ia tidak mempersiapkan apa-apa untuk mengusir sang naga. Meskipun akhirnya hari kembali terang, Kaisar tetap memrintahkan agar kedua astronom itu dibunuh karena dianggap telah gagal.

Di Asia Tengah, gerhana yang terjadi tanggal 28 mei 585 M mengakhiri perang dua negara timur tengah. Selama pertempuran, hari-hari menjadi gelap seperti malam. Gerhana menyebabkan kedua negara tersebut menyatakan perdamaian serta menghentikan pertempuran.

Di Jepang, masyarakat setempat mempercayai bahwa racun telah jatuh dari langit selama terjadi gerhana. Untuk mencegah racun itu jatuh ke dalam air mereka, mereka menutupi seluruh sumur dan mata air selama terjadinya gerhana.

Di India, masyarakatnya mempercayai bahwa Naga bertanggung jawab atas terjadinya gerhana. Selama gerhana, masyarakat di sana membenamkan diri mereka ke dalam air sampai leher mereka, dengan cara ibadah mereka tersebut, mereka mengharapkan matahari dan bulan dapat mempertahankan dirinya dari Naga.

Bila tidak punya iman, kita bias menghubungkan gerhana tersebut dengan ramalan-ramalan atau tradisi yang mendekati syirik. Oleh karena itu kita bisa terpenjara oleh tradisi. Untuk lolos sulit, perlu iradah yang kuat.
QS al-Baqarah 170
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Momentum untuk bertaubat

Musibah di negeri ini tidak ada kapoknya. selalu saja terjadi silih berganti, dari musibah alam sampai dengan musibah moral dan akhlak bangsa. Kejujuran yang semakin langka dan kebohongan yang semakin menjadi sikap hati. Terjadinya proses sunnatullah Gerhana Bulan total ini hendaknya kita jadikan momentum untuk bertaubat. Maka segeralah kita kembali kepada Allah, bertaubat dan mohon ampun seperti yang dilakukan Adam dan hawa.(QS al-A’raf 23):

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Begitulah keadaan seorang mukmin. Bila mendapat kebaikan, maka dia mengembalikan keutamaan kepada Allah. “alhamdulillahilladzi hadzaa na lihaadza …” Bila mendapat keburukan, justru dia mencela dirinya sendiri, tidak mencela dan menyalahkan orang lain.

Ada yang beranggapan bahwa dampak negatif kedurhakaan dan akibatnya ditangguhkan hingga hari akhirat dan hari saat hisab. Padahal tidak. Ada hisab di akhirat dan ada hisab di dunia. Jika hukuman tidak diberlakukan, maka hukuman dari langit pasti akan turun kepada manusia. Hukuman dari langit, hukuman yang pasti dari Allah dan hukuman alam akan turun kepada semuamanusia.

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
QS al-Anfal 25

Kedurhakaan merupakan kemalangan bagi individu, masuarakat, semua manusia dan binatang serta makhluk hidup. Oleh karena itu manusia harus kembali kepada Allah, seraya mengatakan:

(QS Ali Imran 147) ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(QS at-Thalaq [65] 2) وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

(QS at-Thalaq [65] 4) وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا


Setiap orang harus bertanya kepada dirinya, mengapa aku ditimpa musibah seperti ini?

wa Allah a'lam bish-showab

Selasa, 14 September 2010

JANGAN BIARKAN FITRI MEMUDAR

H+4. Popularitas Idul Fitri itu kini mulai memudar seiring kembalinya rutinitas yang ditandai dengan berakhirnya kalender cuti bersama. Beribu episode lebaran pun segera usai. Melalui strategi dan serunya perjalanan, para pemudik juga sudah kembali dari pulkamnya masing-masing. Kini mau gak mau kita harus kembali dengan rutinitas, khusushon hiruk pikuk aktifitas kejar tayang akhir tahun.

Lantas, adakah makna ramadan buat kita? Terasakah kita sebagai pemenang sejati di saat Idul Fitri?

Pertanyaan itu selalu membuat kita miris. Puasa di bulan Ramadhan dan Idul Fitri di bulan Syawwal sesungguhnya merupakan satu kesatuan rangkaian. Kemenangan saat merayakan Idul Fitri tidaklah mungkin diraih tanpa kita 'berkeringat' di bulan Ramadan. Kemenangan itu memang hakikatnya hanya milik mereka yang berpuasa secara serius penuh iman dan keikhlasan, untuk mereka yang memenuhi puasanya dengan berbagai kesibukan amaliyah pendekatan diri kepada Sang Khaliq untuk mengasah jiwanya. Itulah yang membuat diri menjadi fitri kembali.

Berbahagialah setiap kita yang sukses ramadannya karena insya Allah itulah pemenangnya. Kemenangan atau keberuntungan (al-faizin) tidaklah identik dengan materi: baju baru, mobil baru, HP baru, etcetera, etcetera. Kemenangan juga tidak identik bagi mereka yang bisa pulkam lengkap dengan aksesori dunia yang menyertainya.

Prof. Quraish Shihab menyatakan, dari 29 kali perulangan kata fawz (akar kata dari al-faizin) di dalam al-Quran dengan berbagai bentukannya hanya satu kata (afuzu) yang bermakna materi, itupun untuk menggambarkan ucapan orang munafik yang memahami keberuntungan sebagai keberuntungan yang bersifat materi (QS 4:73). Sedangkan pada ayat-ayat yang lain mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi”.

Kita tentu berharap bukan kemenangan semu yang kita raih, yakni kemenangan yang lebih bersifat materialistik dan kering makna. Namun sebaliknya, memperoleh kemenangan sejati, yakni pribadi yang kembali kepada fitri, kembali kepada kesucian, kembali kepada agama yang benar dan memperoleh pengampunan dan keridhaan Allah Swt. Dan kefitrian kita itu mewarnai kinerja kita sepanjang tahun hingga datangnya kembali ramadan tahun depan. Bila seperti itu insya Allah hikmah puasa dan kefitrian kita menjadi kontekstual yang melahirkan berbagai maslahat. Amien.

Minal Aidin wal Faizin.

Minggu, 22 Agustus 2010

TOLERAN MEMANCAR DI BAITURRAHMAN

rabu malam itu terasa sejuk, sejak sore langit memang mendung. gerimis sore yang sporadis itu membuat langit di atas Serambi Mekkah menjadi bersih, menutup oportunitas debu untuk terbang liar memerihkan mata, muka berdebu atau bikin sesak napas. pun polusi yang lain. shaum hari itu menjadi khusyu’ dan ni’mat.

sejurus kemudian sejukpun mengantarkan malam. tiba-tiba imanku yang pas-pasan menjadi tidak sabar untuk menghambur ke rumah Allah yang tegar itu: masjid raya Baiturrahman Nanggroe Aceh Darussalam. sudah lama aku memendam kesempatan untuk bisa bersujud serendah-rendahnya di masjid penuh pesona dan kharismatik itu. jadilah tarawih pertamaku di Baiturrahman.

jama’ah isya’ku tertinggal dua raka’at menjadikanku makmum masbuk. Ndak masalah, yang penting masih dapat keutamaan shalat berjama’ah dua puluh tujuh derajat melebihi shalat sendirian. Subhanallah, nikmatnya shalat malam itu. jama’ahnya tertib, tidak ada canda bocah seperti kebanyakan masjid di daerahku tinggal, bacaan imam shalat yang tartil, tenang dan berkualitas menjadikan shalat bertambah khusyu’. taushiyah dari ustadz yang profesor itu sungguh mencerahkan, rasa-rasanya kadar imanku malam itu menebal beberapa karat.

puluhan, mungkin ratusan, pilar kokoh yang ikut berjamaah itu seakan bertutur ratusan bahkan beribu kisah tentang syiar Islam dan sejarah perjuangan ummat Islam Aceh mendapatkan keyakinan Islamnya yang kokoh, kedamaian dan kesejahteraannya. warna serba putih semakin mengokohkan kesucian tempat itu dan putihnya hati serta kesahajaan jamaahnya di hadapan Sang Rabb. marmer yang sejuk membuat batin semakin tenang. aku optimis kondusifitas ini akan menjadikan tarawihku benar-benar santai dan menenteramkan.

Kanjeng Rasul salallahu alaihi wasallam selalu menggemarkan para sahabatnya untuk mengerjakan qiyam ramadhan (shalat malam pada bulan Ramadhan). “siapa saja yang mendirikan shalat malam pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.”

bacaan imam sangat prima dan merdu, tidak panjang tapi tidak terlalu pendek. dua rakaat salam dan diulang empat kali, kemudian ditutup dengan tiga rakaat witir satu salam. ketika selesai tarawih delapan rakaat, tiba-tiba sebagian jamaah keluar dengan tertib dan santun. segera aku simpulkan, mungkin shalat tarawih dilakukan dengan dua versi. versi pertama, melaksanakan sebelas rakaat dan versi kedua melaksanakan dua puluh tiga rakaat. benar. begitu witir selesai, sebagian besar jamaahpun beranjak keluar masjid. Sebagian jamaah yang tadi keluar ternyata menunggu dan bergantian masuk masjid untuk melanjutkan tarawihnya menjadi dua puluh rakaat plus tiga rakaat witir.

jamaah yang sholat delapan rakaat mengikuti cara qiyamu ramadhan Kanjeng Rasul, yang dua puluh tiga mengikuti contoh sahabat Umar bin Khattab. semua berjalan dengan khidmat. jamaah begitu dewasa dengan versi yang diyakini dan dijalankannya masing-masing. tidak ada blok sendiri-sendiri yang menandakan kesan jarak psikologis. pergantiannya pun khidmat, tidak saling berjejal. senyum jamaah menebar tanda mereka semua gembira dengan tarawih atau qiyamu ramadhannya. aku pernah menjumpai pelaksanaan tarawih satu masjid dengan dua versi seperti ini tapi di Baiturrahman terasa lain.

Baiturrahman benar-benar telah menghadirkan suasana yang tasamuh, toleransi tinggi, ukhuwah islamiyah yang solid. tidak ada yang merasa berbeda. semua merasa ummat yang satu dan bersaudara. pasti ini bukan suasana yang lahir begitu saja tapi tercipta karena muslimin di bumi serambi mekkah itu istiqomah menjalankan syariat islamnya. tidak percaya kalau ada yang mengesankan orang aceh tidak suka damai dan suka memberontak. aku menjadi semakin haqul yakin bahwa masalah di aceh selama ini bukan karena politik tapi masalah ekonomi dan ketidakadilan. akupun diam-diam protes, mestinya aceh bisa lebih makmur dan megah seperti kota-kota besar di indonesia lainnya yang kaya sumber daya alam dan bisa menikmati kekayaan yang diberikan Allah Sang Pemberi Rizki.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi Nanggroe Aceh Darussalam yang istiqomah dengan syariat-Nya, kedamaian dan kesejahteraan. amien.